Foto untuk : Diklat Duta Zakat LAZISNU Jawa Tengah

Diklat Duta Zakat LAZISNU Jawa Tengah

Semarang - Pengurus Wilayah LAZISNU Jawa Tengah mengadakan Diklat pelatihan untuk duta zakat di gedung PWNU Jawa Tengah, minggu (14/2/2016) . Acara ini diikuti sebanyak 21 Duta zakat yang baru bergabung dengan LAZISNU. Diklat ini bertujuan untuk memberikan stimulus dan pelatihan bagi duta zakat dalam menjalankan tugas dan program yang akan dilaksanakan oleh LAZISNU kedepan.

Potensi zakat di kalangan warga Nahdiyyin sangat besar dengan jumlah warga NU yang mencapai kira-kira 80 juta warga. Namun saat ini masih belum tercover secara maksimal oleh lembaga zakat NU. Duta zakat diharapkan mampu proaktif,sebagaimana disampaikan oleh Ketua PWNU Jawa Tengah Drs. H. Abu Hafsin Umar, MA., Ph.D. dalam sambutannya, beliau menekankan zakat itu harus diambil, ayat al qur’an mengatakan khudz (ambilah). Bukan menunggu para muzakki mendatangi lembaga zakat.

Diklat LAZISNU Jateng mendatangkan pemateri dari LAZIS Baiturrahman Semarang yang menyampaikan kiat dan strategi fundrising zakat, baik dari segi performance, fiqih zakat sampai kepada teknik marketing zakat yang menarik. Sehingga membuat muzakki yakin dan percaya menyalurkan donasinya melalu lembaga zakat yang bersangkutan.  

Pada sesi kedua, materi disampaikan langsung oleh Sekretaris Umum LAZISNU pusat Mba Adna dan Mas Lukman. Peserta dikenalkan dengan program NU CARE yang merupakan newbranding LAZISNU. Dalam NU CARE ini, Muzakki bisa memantau pergerakan zakatnya real time, transparan, akuntabel, notifikasi via sms atau email dan program unggulan lainnya. Rencannya NU CARE LAZISNU akan di lounching 25 Februari mendatang. Dengan banyaknya anak muda yang ikut bergabung, “jangan takut dan jangan malu, karena kita (Duta zakat) adalah penolong bagi si kaya dan si miskin” pesan Mba Adna.

Acara Diklat ini mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh dari Syuriah & Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Agar LAZISNU Jawa Tengah ini mampu dikelola secara professional, tertib dan bisa mengakomodir kepentingan mustahik.

“Memang kudu dilatih nggih, harus professional, memang madzhab kita itu banyak yang mengisyaratkan ketertiban. Madzhab Syafi’i, kalo kita kan madzhab Syafi’i, wudlu harus tertib, tertib segala-galanya”. Tutur KH. Ubaidullah Shadaqah Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah.

“Tanggapan saya, sangat positif sekali. itu sebuah upaya yang sangat mulia yang memang harus kita laksanakan, karena seperti tadi saya sampaikan, dan sebagiamna tadi di sampaikan bapak Kyai Ubaid juga, bahasa al quran itu juga mengisyaratkan bahwa amil zakat itu harus pro aktif tidak boleh pasif. Bahasya juga Khudz, ambilah !. karean itu kita Pro aktif baik itu mengambil maupun menyadarkan mereka akan kewajiban mereka sebagai umat Islam yang harus shadaqah dan membayar zakat. Tambah Ketua PWNU Jawa Tengah Drs. H. Abu Hafsin Umar, MA., Ph.D. (Asep)