Foto untuk : PKB Tolak Rencana Kementerian ESDM Mengumpulkan Dana Ketahanan Energi (DKE)

PKB Tolak Rencana Kementerian ESDM Mengumpulkan Dana Ketahanan Energi (DKE)

Jakarta - Rencana Kementerian ESDM mengumpulkan Dana Ketahanan Energi (DKE) dari penjualan premium dan solar sudah bulat. Sebenarnya, tujuan pengumpulan dan itu mulia karena digunakan untuk membangun infrastruktur energi Indonesia yang tertinggal jauh. Tapi, cara yang dianggap tidak wajar memunculkan pertentangan.

Seperti diketahui, per 5 Januari 2016 masyarakat yang membeli dua bahan bakar itu akan membantu pemerintah mewujudkan DKE. Dalam setiap liter premium yang dijual Rp 7.250, sudah termasuk pungutan Rp 200. Untuk solar lebih besar lagi, yakni dipungut Rp 300 dari harga jual Rp 5.950 per liter.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Syaikhul Islam Ali tidak menangkap logika yang benar soal mengumpulkan DKE melalui pungutan. Apalagi, dasar aturannya belum jelas. Dia menekankan, kebijakan pemungutan tersebut justru berpotensi diselewengkan.

“Kami akan meminta menteri ESDM memberi klarifikasi. Kalaupun idenya bagus, dasar hukum dan pengelolaannya harus jelas,” tandasnya saat dihubungi kemarin.

DPR dari Fraksi PKB tersebut juga mengatakan DKE dianggap masih belum jelas peruntukannya. Bahkan, pemerintah sendiri belum pernah membicarakan secara serius soal dana itu. Oleh sebab itu, pihaknya menyatakan menolak tegas pemberlakuan pemungutan dana tersebut.

“Yang penting pemerintah jelaskan dulu untuk apa dana ini. Ini kan masih samar, katanya untuk pengembangan energi baru terbarukan, ada juga yang bilang untuk menstabilkan harga BBM. Ini semua belum jelas,” tegasnya.

Dalam hitungannya, total DKE selama lima tahun diprediksi sekitar Rp 77,5 triliun dengan asumsi dana terkumpul sekitar Rp 15,5 Triliun per tahunnya. Jumlah tersebut cukup besar, itulah kenapa tanpa dasar hukum yang jelas maka kebijakan itu akan ditolak oleh partainya.

“Posisi kami jelas, kami pasti menolak jika dasar hukumnya dipaksakan Dan pengelolaannya tidak jelas,” ujarnya.

Syaikhul mengakui, pemerintah berniat baik dengan adanya dana tersebut. Salah satu tujuan utama dari keberadaan dana ketahanan energi adalah untuk menstabilkan harga BBM jika suatu saat harga minyak dunia kembali melambung. Namun menurut dia, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menjaga kestabilan harga BBM.

“Caranya dengan efisiensi pertamina. Selama ini, semua kilang Pertamina sudah tidak efisian. Akibatnya BBM yang diproduksi mereka harganya lebih mahal dibanding yang impor. Pertamina juga harus memperbaiki masalah distribusi. Pertamina terus merugi, ya karena tidak efisien. Karena itu, lebih baik fokus pada efisiensi Pertamina,” imbuhnya