Foto untuk : Rahasia di Balik Lahirnya Nahdlatul Ulama

Rahasia di Balik Lahirnya Nahdlatul Ulama

RAHASIA DI BALIK LAHIRNYA NAHDLATUL ULAMA (NU)ย 
(dianjurkan kpd warga ย NU utk ย menyimpan sejarah ini)
Teks Translit Pidato KH. As'ad Syamsul 'Arifin
ย ย 
ย 
(KH Asโ€™ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH. Kholil Bangkalan yang memberi isyarat agar KH. Hasyim Asy'ari mendirikan Jamโ€™iyah Ulama yang akhirnya bernama Nahdlatul Ulama. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya).

Assalamuโ€™alaikum Wr. Wb. yang akan saya sampaikan pada Anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada Anda semua. "Anda suka mendengarkan cerita?" (Hadirin menjawab: Ya)

Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya)

Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU?

Tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. Kalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, Pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.

Begini, umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya', pelopor-pelopor Rasulullah Saw. ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat. Jadi, ulama, para auliya', para pelopor Rasulullah Saw. masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam. Menurut orang sekarang Islam Ahlussunah wal Jamaโ€™ah, syariat Islam dari Rasulullah SAW. yang beraliran salah satu empat madzhab khususnya madzhab Syafi'i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia.
ย 
Madzhab-madzhab yang lain juga ada. Ini termasuk Islam Ahlussunah wal Jamaโ€™ah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlussunah wal Jamaโ€™ah.

Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia.

Masing-masing ulama melaporkan: โ€œBagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadhratus Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan Anda yang menyampaikannya.โ€

Kyai Muntaha berkata: โ€œApa keperluannya?โ€

โ€œBegini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya al-Quran dan Hadits saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. Tolong disampaikan pada Kyai Kholil.โ€

Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: โ€œNasib, ke sini! Bilang kepada Muntaha, di al-Quran sudah ada, sudah cukup:

ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ุฃูŽู† ูŠูุทู’ููุคููˆุงู’ ู†ููˆุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุจูุฃูŽูู’ูˆูŽุงู‡ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุฃู’ุจูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฅูู„ุงูŽู‘ ุฃูŽู† ูŠูุชูู…ูŽู‘ ู†ููˆุฑูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููˆู†ูŽ ๏ดฟูฃูข๏ดพ

โ€œMereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.โ€ (QS. at-Taubat ayat 32)

Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, maka kehendakNya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha.โ€

Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). I
ย ni karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. โ€œSaya puas sekarangโ€ kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.

Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Abah saya (KH. Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini.

Seperti apa, seperti apa? Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir. para Kyai berkata: โ€œTidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan.โ€ Sampai tahun 1923, kata Kyai satu: โ€œMendirikan Jamiyah (organisasi)โ€, kata yang lain: โ€œSyarikat Islam ini saja diperkuat.โ€ Kata yang lain: โ€œOrganisasi yang sudah ada saja.โ€

Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini.

Kemudian ada satu ulama yang matur (menghadap) sama Kyai: โ€œKyai, saya menemukan satu sejarah tulisan Sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini (Kyai As'ad berkata: โ€œKalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan sajaโ€): โ€œWaktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): โ€œIslam Ahlussunah wal Jamaโ€™ah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlussunah wal Jamaโ€™ah. Bawa ke Indonesia.โ€

Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlussunah wal Jamaโ€™ah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi melakukan wasiat ini.

Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugasi ke Madinah.

Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang memegang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insya Allah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.

Sesudah tidak menemukan kesimpulan, tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: โ€œAs'ad, ke sini kamu!โ€

Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra'. Saya ini pelat (cadal). โ€œArrahman Arrahimโ€ฆโ€
Kyai marah: โ€œBagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!โ€

โ€œSaya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.โ€
Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.
Kedua, saya dipanggil lagi: โ€œMana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?โ€
โ€œSudah Kyai.โ€
โ€œKe sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asyโ€™ari Jombang. Tahu rumahnya?โ€
โ€œTahu.โ€
โ€œKok tahu? Pernah mondok di sana?โ€
โ€œTidak. Pernah sowan.โ€
โ€œTongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.โ€
โ€œYa, kyai.โ€
โ€œKamu punya uang?โ€
โ€œTidak punya, kyai.โ€
โ€œIni.โ€

Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: โ€œKe sini kamu! Ada ongkosnya?โ€
โ€œAda kyai.โ€
โ€œTidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?โ€
Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: โ€œIni (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):
ย 
ูˆูŽู…ูŽุง ุชูู„ู’ูƒูŽ ุจููŠูŽู…ููŠู†ููƒูŽ ูŠูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰ ๏ดฟูกูง๏ดพ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ููŠูŽ ุนูŽุตูŽุงูŠูŽ
ย ุฃูŽุชูŽูˆูŽูƒูŽู‘ุฃู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู‡ูุดูู‘ ุจูู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุบูŽู†ูŽู…ููŠ ูˆูŽู„ููŠูŽ ูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุขุฑูุจู ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ๏ดฟูกูจ๏ดพ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู„ู’ู‚ูู‡ูŽุง ูŠูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰ ๏ดฟูกูฉ๏ดพ ููŽุฃูŽู„ู’ู‚ูŽุงู‡ูŽุง ููŽุฅูุฐูŽุง ู‡ููŠูŽ ุญูŽูŠูŽู‘ุฉูŒ ุชูŽุณู’ุนูŽู‰ ๏ดฟูขู ๏ดพ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฎูุฐู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฎูŽูู’ ุณูŽู†ูุนููŠุฏูู‡ูŽุง ุณููŠุฑูŽุชูŽู‡ูŽุง ุงู„ู’ุฃููˆู„ูŽู‰ ๏ดฟูขูก๏ดพ

โ€œApakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: โ€œIni adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.โ€ Allah berfirman: โ€œLemparkanlah ia, hai Musa!โ€ Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: โ€œPeganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.โ€
ย 
Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel:

โ€œOrang ini gila. Muda pegang tongkat.โ€
Ada yang lain bilang: โ€œIni wali.โ€

Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): โ€œSiapa ini?โ€
โ€œSaya, Kyai.โ€
โ€œAnak mana?โ€
โ€œDari Madura, Kyai.โ€
โ€œSiapa namanya?โ€
โ€œAs'ad.โ€
โ€œAnaknya siapa?โ€
โ€œAnaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.โ€
โ€œAnaknya Maimunah kamu?โ€
โ€œYa, Kyaiโ€
โ€œKeponakanku kamu, Nak. Ada apa?โ€
โ€œBegini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.โ€
โ€œTongkat apa?โ€
โ€œIni, Kyai.โ€
โ€œSebentar, sebentarโ€ฆโ€
Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). โ€œBagaimana ceritanya?โ€

Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

ูˆูŽู…ูŽุง ุชูู„ู’ูƒูŽ ุจููŠูŽู…ููŠู†ููƒูŽ ูŠูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰ ๏ดฟูกูง๏ดพ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ููŠูŽ ุนูŽุตูŽุงูŠูŽ ุฃูŽุชูŽูˆูŽูƒูŽู‘ุฃู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู‡ูุดูู‘ ุจูู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุบูŽู†ูŽู…ููŠ ูˆูŽู„ููŠูŽ ูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุขุฑูุจู ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ๏ดฟูกูจ๏ดพ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู„ู’ู‚ูู‡ูŽุง ูŠูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰ ๏ดฟูกูฉ๏ดพ ููŽุฃูŽู„ู’ู‚ูŽุงู‡ูŽุง ููŽุฅูุฐูŽุง ู‡ููŠูŽ ุญูŽูŠูŽู‘ุฉูŒ ุชูŽุณู’ุนูŽู‰ ๏ดฟูขู ๏ดพ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฎูุฐู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฎูŽูู’ ุณูŽู†ูุนููŠุฏูู‡ูŽุง ุณููŠุฑูŽุชูŽู‡ูŽุง ุงู„ู’ุฃููˆู„ูŽู‰ ๏ดฟูขูก๏ดพ

โ€œApakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: โ€œIni adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.โ€ Allah berfirman: โ€œLemparkanlah ia, hai Musa!โ€ Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: โ€œPeganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.โ€
ย 
"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jamโ€™iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.โ€
Inilah rencana mendirikan Jamโ€™iyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jamโ€™iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

Setelah itu saya mau pulang. โ€œMau pulang kamu?โ€
โ€œYa, Kyai.โ€
โ€œCukup uang sakunya?โ€
โ€œCukup, Kyai.โ€
โ€œSaya cukup didoakan saja, Kyai.โ€
โ€œYa, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jamโ€™iyah Ulama akan diteruskan.โ€

Inilah asalnya Jamโ€™iyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: โ€œAs'ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?โ€
โ€œTidak, Kyai.โ€
โ€œHasyim Asy'ari?โ€
โ€œYa, Kyai.โ€
โ€œDi mana rumahnya.โ€
โ€œTebuireng.โ€
โ€œDari mana asalnya?โ€
โ€œDari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asyโ€™ari Keras.โ€
โ€œYa, benar. Di mana Keras?โ€
โ€œDi baratnya Seblak.โ€
โ€œYa, kok tahu kamu?โ€
โ€œYa, Kyai.โ€
โ€œIni tasbih antarkan.โ€
โ€œYa, Kyai.โ€

Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: โ€œKe sini, makan dulu!โ€
โ€œTidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,โ€
โ€œDari mana kamu dapat?โ€
โ€œSaya beli di jalan, Kyaiโ€
โ€œJangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?โ€
โ€œYa, Kyai.โ€
Saya makan di jalan dimaraha
ย mi. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: โ€œCukup itu?โ€
โ€œCukup, Kyai.โ€
โ€œTidak!โ€
Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: โ€œYa Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.โ€ Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.
โ€œIni.โ€

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. โ€œKok leher?โ€
โ€œYa, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.โ€
โ€œYa, kalau begitu.โ€

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: โ€œIni orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.โ€ Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

Ada yang narik: โ€œKarcis! karcis!โ€

Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: โ€œApa itu?โ€
โ€œSaya mengantarkan tasbih.โ€
โ€œMasya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?โ€
โ€œIni, Kyai.โ€ (dengan menjulurkan leher).
โ€œLho?โ€
โ€œIni, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.โ€
Kemudian diambil oleh Kyai: โ€œApa kata Kyai?โ€
โ€œYa Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.โ€
โ€œSiapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur.โ€ Ini dawuhnya.

Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. Banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jamโ€™iyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada Gubernur Jenderal. Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan.

Nb. File rekaman diperoleh dari Gus Adib Mursyid, MAg. pada Jumโ€™at 23 Maret 2012 di atas Kapal Lawit (Pelni). Dialihbahasakan oleh Moh. Ma'ruf Khozin.

Diedit ulang oleh Syaโ€™roni As-Samfuriy, Tegal 18 Februari 2013
Copas Dariย Telegram Ayo Mondokย  ย