Foto untuk : Revolusi Sepak Bola dari Santri Untuk Bangsa

Revolusi Sepak Bola dari Santri Untuk Bangsa

Semarang - Liga Santri Nusantara kembali digelar tahun ini. Kegiatan yang diprakarsai oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ini bakal serentak dilaksanakan secara nasional dan diikuti oleh para santri dari pondok pesantren di Indonesia.

Guna menunjang acara tersebut, Fraksi Frasksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) bekerjasama dengan Panitia Pelaksana Liga Santri Nusantara 2016, menggelar diskusi publik bertema Revolusi Sepakbola Nasional Berawal dari Pesantren, Pembinaan Usia Muda Tanggungjawab Siapa?. Diskusi ini digelar di Lantai 4 DRPD Provinsi Jateng, Kamis (25/8) siang.

Peserta diskusi publik adalah pengasuh pondok pesantren, calon peserta Liga Santri Nusantara 2016, Asosiasi Wasit Profesional Indonsia (AWAPI) dan umum. Tahun ini Kemenpora menunjuk RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) NU  sebagai penyelenggaranya. LSN untuk regional II ini akan resmi digelar pada 1 September mendatang.

Koordinator Liga Santri Nusantara Zona Jateng 2 Sukirman mengungkapkan, Liga Santri merupakan kompetisi sepakbola antar santri yang dilakukan secara nasional dan akan diambil juara dari masing masing zona di seluruh provinsi untuk bertarung di tingkat nasional.

“Zona dua dipastikan diikuti sebanyak 18 klub dan menggunakan sistem gugur. Ada verifikasinya sehingga kami jamin pesertanya murni dari kalangan santri,” ungkapnya.

Menurut Sukirman, Liga Santri Nusantara ini diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olah Raga dengan tujuan untuk menggairahkan persepakbolaan nasional dan mencari bibit bibit muda pesepakbola yang nantinya diharapkan bisa menjadi pesepakbola profesional yang mampu berbicara di tingkat dunia.

Pada kesempatan yang sama, mantan pelatih sepak bola dan pembina PPLP salatiga Edi Prayitno mengungkapkan apresiasinya dengan akan digelarnya Liga Santri ini karena dari pengamatannya sepakbola santri memiliki nilai lebih dibanding pemain sepakbola pada umumnya.

“Mereka memiliki tingkat kepatuhan dan penghormatan yang lebih baik pada perangkat pertandingan. Saya yakin budaya cium tangan akan lebih dominan ketimbang protes berlebihan sampai nonjok wasit yang sering kita lihat pada sepak bola kita,” katanya.

Disamping itu, tambah Edi, bibit bibit pesepakbola di pesantren juga tidak kalah dibanding ditempat lain. Dia mencontohkan di Pondok Pesantren API Tegalrejo saat ini memiliki beberapa pemain yang kwalitasnya setara dengan pemain profesional.

“Yang membedakan hanya mereka ini tidak dikelola dan dibina secara profesional, saya yakin kalau dibina dengan baik akan menghasilkan pemain pemain yang tidak kalah dengan pemain yang selama ini sudah ada,” bebernya.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah H. Abu Hafsin memberikan pidato kunci dalam diskusi kali ini (25/8). Hal penting dari tatanan sepakbola adalah kombinasi baik pemain, pelatih serta pemerintah. Bila sinergi ini mampu berjalan sepakbola di Indonesia akan maju.

“Santri tentu berbeda dari sisi mentalitas,” tandas H. Abu.

Hal inilah yang membedakan antara santri dan bukan santri. Gus Yusuf (sapaan akrab KH. Yusuf Chudlori) menambahkan bahwa santri memiliki akar atau pondasi yang kuat. Akhlaq al-karimah, sopan santun dan nilai-nilai luhur inilah yang dimiliki santri. Bila pondasi kuat mau kita buat menjadi atlet bisa, kiai bisa, ulama bisa, politisi bisa dan sebagainya.

Gus Yusuf yang pernah menjadi owner PPSM Magelang menambahkan bahwa selain pemain, pelatih dan pemerintah butuh pula supporter dan manajemen yang berkualitas. Bisa dikatakan ada masyarakat bola bila ingin menjadikan sepak bola menjadi primadona. Kalau di pesantren bisa dimulai dari pengasuhnya yang cinta akan sepak bola.

“LSN bukan satu-satunya tujuan untuk menghidupkan geliat sepak bola pesantren,” terang Gus Yusuf.

LSN merupakan wasilah untuk menyemarakkan persepakbolaan di tanah air ini. Hasil dari TM yang digelar panitia pelaksana LSN Regional 2 Jateng terdapat 18 tim yang siap berlaga di Lapangan Arhanudse 15 Kodam IV/Diponegoro, 1-4 September 2016. 

Pelaksanaan Liga Santri Nusantara tingkat Jawa Tengah dibagi dalam tiga zona, zona 1 meliputi wilayah Pekalongan, Banyumas dan sekitarnya, zona 2 meliputi wilayah Semarang, Kudus, Jepara, Salatiga dan sekitarnya, sedangkan Zona 3 meliputi wilayah Surakarta, Sragen dan sekitarnya.