Foto untuk : Sejarah, Polemik Revitalisasi Keraton Demak Bintoro

Sejarah, Polemik Revitalisasi Keraton Demak Bintoro

Berdasarkan penelitian dari IAIN Walisongo (1975), Fakultas Sastra Undip (1994-1995), penelitian Tim Pencarian Pusat dan Tata Letak Pemerintahan Kerajaan Islam Demak [Dipimpin Ir Sudjadi], cerita dari Fokker (Belanda) dan mengacu pada sketsa gambar dan peta denah lokasi bangunan Keraton Demak yang dibuat Belanda, penelitian ini menyimpulkan lokasi bangunan Keraton Demak berada di lokasi sebelah selatan/tenggara Masjid Demak dan alun-alun Demak. Hal itu sesuai kesaksian Fokker dan Clerg (Belanda) yang menyebut sisa bangunan bekas keraton sebelah alun-alun Demak di kawasan Sitinggil dan sekitarnya dihancurkan tahun 1809 M ketika hendak dibangun jalan raya pos (Deandels) atau sekarang dikenal jalur Pantura. Sedangkan bekas bangunan ruang-ruang istana yang lain dihancurkan saat pembangunan rel kereta api tahun 1885 M. Demikian juga dinding di kawasan Tembiring kemungkinan ikut dibongkar tahun 1885 M guna dibangun jalan rel kereta api. Sehingga setelah masa itu tidak dijumpai lagi bekas bangunan keraton Demak. 
 
Pada masa sekarang di kawasan tersebut telah berdiri Kantor Kejaksaaan, Dinas Pariwisata, kampung Kauman sebelah selatan Masjid Agung Demak, SMPN 2, Kantor KPU, Bank Jateng, kampung Sitinggil I, kampung Stinggil II, pertokoan, asrama tentara, Kantor PCNU, PP Al-Fattah, perkampungan penduduk hingga kawasan timur terminal mendekati Tembiring dan utara Stasiun Demak dimana di kawasan tersebut terdapat rel kereta api. Lambat-laun seiring perjalanan waktu kawasan bekas keraton berubah menjadi pemukiman padat penduduk. Sejak saat itu tanah keraton kawasan timur terminal (mulai kawasan Tembiring hingga kawasan stasiun Demak) diklaim sebagai milik Belanda dan setelah Indonesia Merdeka diklaim lagi menjadi milik PJKA (Pegawai Jawatan Kerata Api) yang sekarang berubah menjadi PT KAI (Perseroan Terbatas Kereta Api Indonesia) walau sekarang ini sudah banyak yang ditempati warga dan sejumlah instansi.
 
Dalam revitalisasi cagar budaya warisan Kasultanan Demak setidaknya ada lima situs yang perlu dipelihara, yaitu Masjid Agung Demak, Makam para Sultan Demak, alun-alun Demak, sungai Tuntang dan Keraton Demak. Dari lima situs tersebut tiga sudah baik yaitu Masjid, makam dan alun-alun yang sudah ditata dengan baik (hanya mungkin teknisnya saja yang perlu diperbaiki, misalnya, jalur masuk ke Masjid Agung jangan diputar-putar alurnya biar peziarah tidak kesulitan mengakses Masjid Agung). Namun untuk situs sungai Tuntang dan Keraton Demak belum diperhatikan dengan serius.
 
Terkait penataan situs sungai Tuntang, Pemkab Demak memang sudah memperhatikan dan menatanya terutama di kawasan depan Pendopo Kabupaten Demak yang dibangun taman dan jembatan. Namun penataan tersebut belum menghilangkan kesan sungai Tuntang yang dikenal kurang bersih. Dalam masalah ini, Drs. H. Masykuri Abdul Latif berpendapat, seorang pengusaha dan aktivis pergerakan yang menjadi peserta diskusi Forum Komunikasi LSM Demak (akhir tahun 2015 di Wisma Balekambang, Jl. Kiai Singkil 40 A). Beliau mengusulkan agar aliran sungai Tuntang yang berada dari Ploso disodet sedikit (dihidupkan lagi aliran airnya) menuju ke arah sungai Tuntang yang berada di depan Pendopo Kabupaten Demak. Sehingga sungai Tuntang di depan Pendopo bisa dialiri air agak banyak.
 
Selain sungai Tuntang, situs yang tak kalah penting diperhatikan adalah lokasi Keraton Demak. Lantas, bagaimana cara kita merevitalisasi kawasan/lokasi bekas kompleks bangunan Keraton Demak Bintoro? Mungkin jawaban masyarakat pun berbeda-beda. Ada yang berpendapat sangat perlu dilakukan revitalisasi lokasi bekas Keraton Demak. Ada pula yang berpendapat tidak perlu dan menganggap itu sudah masa lalu dan kita tutup sejarah atau tidak usah membahas keraton Demak lagi. Menurut hemat kami, revitalisasi terhadap kawasan lokasi Keraton Demak penting dilakukan. Ini untuk pertanggungjawaban kita pada peradaban Islam di pulau Jawa dan Nusantara, juga kepada anak-cucu kita kelak agar tidak selalu bertanya mengenai Keraton Demak, sehingga tugas sejarah ini harus bisa kita tuntaskan.
 
Drs. H. Mulyani M Noo, M.Pd, salah seorang guru sasatra dalam diskusi Forum Komunikasi LSM Demak (akhir tahun 2015 di Wisma Balekambang, Jl. Kiai Singkil 40 A) mengusulkan agar dibangun Bangunan Pusat Peradaban Islam Nusantara (bisa berupa replika Keraton, Museum Keraton Demak atau Gedung Seni-Budaya Demak). Lantas di titik mana Museum dan Gedung Seni-Budaya itu mesti dibangun? Idealnya memang di lokasi yang sekarang berdiri Gedung SMP N 2 atau Kantor KPU Demak yang selama ini diyakini sebagai lokasi bekas Keraton Demak.
 
Penelitian ini menyimpulkan lokasi Keraton Demak berada di kawasan sekitar alun-alun dan Masid Agung Demak yaitu di kawasan yang terdapat Kampung Sitinggil atau Siti Hinggil dalam bahasa Kawi berarti tanah yang inggil atau tempat duduk raja atau Pendopo/Paseban Keraton Demak tempat Sultan berkumpul dengan para pejabat negara maupun rakyat. Sementara Tembiring berarti dinding besar yang dahulu memisahkan keraton dengan sungai Tuntang agar air Tuntang tidak masuk ke kawasan keraton sekaligus berfungsi sebagai benteng keraton yang membentang hingga ke Pecinan di sebelah utara Masjid Demak terus menjulur hingga sampai daerah Kalicilik di sepanjang sisi sungai Tuntang sebagaimana dalam sketsa gambar VOC abad 18 M. Ini artinya bangunan keraton Demak kala itu sudah sangat besar dan mewah. Benteng di sepanjang sungai Tuntang tidak cuma melindungi keraton tetapi melindungi kota praja Demak, baik keraton, Masjid, alun-alun, maupun pemukiman penduduk di kawasan kota praja.

Secara fisik untuk meyakini bahwa lokasi Keraton Demak ada didaerah tersebut memang perlu dibuktikan. Misalnya, untuk memperoleh fondasi keraton, perlu dilakukan penggalian. Sayangnya di daerah Sitinggil dan sekitarnya sudah banyak  bangunan sehingga tidak mungkin membongkar keramik rumah orang. Kecuali jika penduduk yang punya bangunan dengan suka-rela membolehkan rumah atau bangunannya dibongkar untuk digali tanahnya.

Di kawasan tersebut pernah ditemukan keramik dan situs cagar budaya yang diduga peninggalan keraton Demak yang sekarang tersimpan di Kantor Dinas Pariwisata Demak. Untuk itu, kiranya tanah negara yang sekarang berdiri bangunan kantor KPU dan SMP N 2 bisa direlakan untuk dibangun pusat peradaban Islam Nusantara berupa situs keraton Demak karena hasil kajian akademis di daerah situ merupakan bagian depan dari bangunan keraton Demak. Di samping letaknya strategis di jantung kota Demak. Beberapa benda cagar budaya yang diduga peninggalan keraton Demak pernah ditemukan di kawasan tersebut yang sekarang tersimpan di kantor Dinas Pariwisata Demak. Karena sesuai petunjuk peta dan topografi keraton di lokasi di situlah terdapat pintu muka pendopo, dinding depan atau gapura Keraton Demak berada. Informasi yang berkembang Kantor KPU akan pindah karena mau membangun gedung yang baru.
 
Bangunan Pusat Peradaban Islam Nusantara (bisa berupa replika Keraton, Museum Keraton Demak atau Gedung Seni-Budaya Demak) bisa diandaikan menghadirkan ruh gerakan perjuangan menuju kejayaan kembali peradaban Islam Nusantara di bumi Demak Bintoro. Bangunan replika Keraton Demak mungkin tidak sepersis masa dahulu karena bukti fisik keraton sudah dihancurkan Belanda, tetapi cukup dibangun replika bangunan keraton dalam skala yang minimalis. Dalam hal ini kita bisa meniru Pemerintah Malaysia dalam memberlakukan peradaban Kesultanan Melayu Melaka dimana ketika Kasultanan Melayu Melaka pada tahun 1511 M direbut Portugis dan kemudian bubar tetapi sekarang oleh pemerintah Malaysia dibangun situs replika bangunan Keraton Kasultanan Melayu Melaka di daerah yang diyakini sebagai bekas lokasi keraton Melaka.
 
Dalam hal ini Malaysia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa negaranya sangat menghargai peradaban yang dimiliki pendahulunya biar generasi masa sekarang mengetahui bahwa pada masa dahulu ada Kasultanan Melayu Melaka yang bertempur habis-habisan untuk melawan kaum penjajah Portugis sebagai cikal-bakal penjajah Barat di Nusantara. Di dalam bangunan pusat studi peradaban Islam Nusantara di Demak Bintoro ini bisa berupa bangunan replika Keraton Demak Bintoro yang kemudian bisa digunakan sebagai Museum Keraton, tempat pagelaran seni-budaya dan perpustakaan Islam Nusantara. Dalam museum Keraton Demak juga bisa disimpan benda-benda bersejarah yang sekarang tersimpan di Kantor Dinas Pariwisata. Pusaka, keris, tombak, dan benda lain yang sekarang masih ada di luar negeri (Belanda) suatu saat apabila boleh dibawa pulang ke Demak juga bisa disimpan di Museum Keraton. Juga bisa dibuat perpustakaan Keraton Demak yang menyimpan dokumen atau buku-buku yang membahas sejarah Kasultanan Demak dan Islam di Nusantara. Bisa juga di dalamnya diberi sketsa besar yang menceritakan sejarah perjalanan Kasultanan Demak Bintoro (hal seperti ini dilakukan oleh Kelenteng Sam Po Kong Semarang dan Masjid Agung Jawa Tengah). Pokoknya segala hal yang berkaitan dengan kekayaan seni-budaya dan peradaban  Islam Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban Kasultanan Demak Bintoro bisa dipajang di Museum Replika Keraton Demak tersebut. Keberadaan Museum di Demak selama ini hanya ada di Masjid Agung Demak. Museum Masjid Agung sudah bagus dan isinya khusus berkaitan dengan aset-aset yang berkaitan dengan Masjid Agung Demak, sedangkan benda-benda lain yang tidak berkaitan dengan Masjid Agung tetapi berkaitan dengan keraton atau warisan masa lalu Demak lebih baik jika disimpan di Museum tersendiri yaitu Museum Keraton.  
Rancangan pembangunan Pusat Peradaban Islam Nusantara (berupa replika Keraton/Museum Keraton) bisa dikonsep seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) atau Museum Ronggowarsito Semarang yang dipadukan dengan Gedung Seni-Budaya. Kalau gedung semacam ini ada di Demak maka sangat menarik untuk digunakan pagelaran seni-budaya khas Demak seperti rebana, zipin, wayang, barongan, sendra tari, puisi, teater, dan lain-lain (yang jadwalnya diatur agar tidak berbenturan dengan jadwal sholat dan pengajian di Masjid Agung Demak). Sehingga kebudayaan di Kabupaten Demak bisa berkembang pesat. Tidak seperti sekarang ini yang kalah oleh hiruk-pikuk karaoke liar. Hal itu terjadi karena kurangnya fasilitas hiburan positif dan kreasi bagi generasi muda yang disediakan oleh negara. Keberadaan bangunan semacam ini penting guna membangkitkan identitas kebudayaan Demak dan kebanggaan generasi muda tentang peradaban Demak Bintoro.  
Dengan adanya Museum Keraton dan Gedung Seni-Budaya maka para wisatawan yang datang ke Demak selain beribadah di Masjid Agung dan berziarah ke Makam Sunan Kalijaga dan Sultan Fattah juga bisa mengunjungi destinasi wisata baru berupa Museum Keraton dan Gedung Seni-Budaya, sambil menikmati pementasan kesenian budaya lokal khas Demak. Generasi muda Demak bisa ikut memeriahkan pementasan seni-budaya dan produk/kreasinya. Lebih enak jika wisata kuliner ditata dengan baik sehingga bisa menghidupkan perekonomian masyarakat dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
 
Seandainya gedung replika Keraton Demak (yang difungsikan sebaai pusat studi peradaban Islam Nusantara jadi dibagun, bisa berupa Museum Keraton, Gedung Seni-Budaya atau perpustakaan) benar-benar bisa terwujud di bekas lokasi Keraton Demak maka akan menjadi media pembelajaran kebudayaan yang menyenangkan. Para guru bisa mengajak murid-murid (TK, RA, SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK) berkunjung ke Museum Keraton untuk mendidik generasi muda calon penerus bangsa untuk lebih mengenal sejarah leluhurnya sehingga bisa meneladani dan meneruskan perjuangannya. Begitu pula dengan para wisatawan (peziarah) yang berkunjung ke Demak yang sering bertanya mengenai lokasi Keraton Demak juga bisa diberitahu bawah di tempat inilah dahulu kala Keraton Demak pernah berdiri megah. Dengan demikian spirit kebangkitan peradaban Demak Bintoro lambat laun akan merekah.(M. Kholidul Adib